BTemplates.com

Selasa, 07 Februari 2017

Biografi Affandi Koesoema



 

Affandi lahir di Cirebon pada tahun 1907. Affandi adalah anak  dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Affandi termasuk anak yang  pendidikan formalnya cukup tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HISMULO, dan selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh sedikit anak di Indonesia dulu.
Namun, bakat seni lukisnya yang lebih menonjol daripada ilmu lain dalam kehidupannya Berkat kelebihan itu Affandi menjadi tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya. Walau begitu, Affandi dikenal sebagai sosok yang sederhana dan suka merendah.
Pada umur 26 tahun, pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan melanjutkan bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika Affandi.
Sebelum menjadi pelukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digelutinya karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis.
Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dengan kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra GunawanBarliSudarso, dan Wahdi serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki peran yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini tidak sama dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerja sama saling membantu sesama pelukis.
Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkaiyang terdiri dari Ir.Soekarno, Drs. Mohammad HattaKi Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur--memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian.  
Ketika Indonesia merdeka pada tahun  1945, banyak pelukis yang meluki Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi  "Merdeka atau mati!". Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster yang merupakan ideSoekarno itu menggambarkan seseorang yang dirantai tapi rantainya sudah putus. Yang dijadikan model adalah pelukis Dullah. Kata-kata yang dituliskan di poster itu ("Bung, ayo bung") merupakan usulan dari penyair Chairil Anwar. Sekelompok pelukis siang-malam memperbanyaknya dan dikirim ke daerah-daerah.
Sepulang dari India dan Eropa, pada tahun lima puluhan, Affandi dicalonkan oleh PKI untuk mewakili orang-orang tak berpartai dalam pemilihan Konstituante. Dan terpilihlah dia, seperti Prof. Ir. Saloekoe Poerbodiningrat dsb, untuk mewakili orang-orang tak berpartai. Dalam sidang konstituante, menurut Basuki Resobowo yang teman pelukis juga, biasanya  Affandi cuma diam, kadang-kadang tidur. Tapi ketika sidang komisi, Affandi angkat bicara. Dia masuk komisi Perikemanusiaan (mungkin sekarang HAM) yang dipimpin Wikana, teman dekat Affandi juga sejak sebelum revolusi.
Affandi juga termasuk pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Dia bagian seni rupa Lembaga Seni Rupa) bersama Basuki Resobowo, Henk Ngantung, dan sebagainya.
            Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.
Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.

            Affandi meninggal pada bulan mei 1990.Beliau dimakamkan didekat Museumnya.

0 komentar:

Posting Komentar